Kota Romantis Maldives

Kota Romantis Maldives

Kota Romantis Maldives – Kita semua tahu bahwa Maldives atau Maladewa merupakan salah satu destinasi liburan terbaik sedunia, dan masuk dalam ‘bucket-list’ perjalanan banyak orang.

Tak heran, karena negara tropis di Samudra Hindia (dibawah Sri Lanka) ini menawarkan pulau-pulau tropis dengan air biru berkilau, laguna yang menghubungkan atol (koleksi pulau), pantai pasir putih sehalus gula, dan terumbu karangnya yang luas.

Negara berslogan ‘Always Natural, Maldives’ in terdiri dari 1.190 pulau karang, 26 atol berbentuk cincin, 200 pulau berpenghuni dengan ratusan hotel dan resor mengagumkan di dalamnya.

Ini kali kedua saya mengunjungi Maladewa setelah 13 tahun lalu, sebelum badai tsunami 2004 bersama sahabat saya, Venda. Penasaran seperti apa Maladewa sekarang, saya memutuskan untuk kembali ke sana pada akhir bulan November 2017.

waktu terbaik mengunjungi Maladewa adalah antara bulan November dan April. Bulan Desember dan Maret adalah high-season dan musim hujan berlangsung dari bulan Mei sampai Oktober. Pas dong.

Kali ini, saya bersama Welah mengatur rencana liburan ke Maladewa selama 5 hari 4 malam. Dua malam pertama, kami akan menginap di penginapan yang dekat dengan bandara.

Kemudian, dua malam berikutnya kami ingin menginap di pulau pribadi yaitu Niyama Private Islands, yang berjarak waktu 45 menit terbang dengan seaplane (pesawat amfibi) dari pulau bandara.

Kami tiba di Bandara Internasional Velana di Pulau Hulhule pada siang hari. Walaupun penerbangan langsung pesawat kami dari Bangkok ke Maladewa hanya selama 3,5 jam (dari Jakarta memakan waktu sekitar 8 jam), kami cukup merasa capek. Mungkin disebabkan cuaca Maladewa yang menyambut kami siang itu sedikit mendung.

Resor Bandara Terbaik Sedunia

Sesuai rencana, kami memutuskan menginap di Hulhule Island Hotel.yang sering menjadi hotel transit, sebelum meneruskan perjalanan dengan pesawat domestik ataupun kapal ke tujuan pulau berikutnya.

Dengan free-shuttle yang disediakan hotel kami tiba dalam waktu singkat yaitu kurang dari 3 menit dari bandara.

Setiba di hotel, kami cukup terkesan dengan hotel ini. Menurut saya, hotel ini lebih tepat disebut sebagai ‘resor’ ketimbang hotel.

Tidak seperti hotel transit biasanya berkonsep bed and breakfast, fasilitas di sini sangat lengkap. Ada pantai pribadi, lapangan voli dan basket, mini golf, tenis, fitness-center dan spa, juga sebuah kolam renang yang besar. Ternyata, hotel ini adalah pemenang untuk predikat Resor Bandara Terbaik Sedunia tahun 2014.

Setelah check-in di hotel, kami langsung makan siang di restoran yang berada di lantai dua, dengan suguhan pemandangan kota Male.

Setelah makan siang, kami ditawarkan beragam opsi aktivitas dari hotel. Pilihan untuk melihat ikan lumba-lumba di sore hari, sunset di sandbank (atol berpasir putih), snorkeling dan diving, submarine tour, city tour dan lain sebagainya.

Memulai hari liburan kami di Maladewa, kami memilih bersantai di pantai sambil menunggu matahari terbenam. Sayangnya, langit ditutupi awan hingga matahari tak nampak batang hidungnya.

Snorkeling Bersama Ikan Pari

Keesokan harinya, kami bangun jam 8 pagi untuk bersiap naik kapal menuju fish-tank, nama titik snorkeling. Kami membayar 32 dollar AS per orang, sudah termasuk transportasi pulang-pergi, dua kalisnorkeling beserta alat-alatnya.

Fish-tank benar-benar seperti di dalam akuarium. Kami puas melihat ratusan ikan seperti ikan morey eel, parrot fish, schooling banner, hog fish, long nose dan sekelompok stingrays atau ikan pari!

Diving Bersama Ikan Hiu

Usai snorkeling pertama, saya ditantangi pemandu kami yang mengajak saya scuba diving. Diimingi bisa melihat ikan hiu, saya setuju menambah sekitar 50 dollar AS untuk menyelam. Sungguh, saya tak menyesal! Hanya di kedalaman 15 meter saya melihat lima reef sharks mondar-mandir dari arah depan, samping kiri dan di atas kepala saya! Woohoo!

Saking serunya, saya sampai tak berasa hujan deras di atas permukaan air, saya sampai menggigil kedinginan karena tidak memakai wet-suit khusus untuk menyelam.

Ketika naik ke kapal, saya dipelototin orang sekapal karena kelamaan menunggu saya, di atas kapal yang terombang-ambing ombak besar dan hujan.”Mahal”-nya Male

Male adalah ibu kota Maladewa yang di zaman kuno disebut “Mahal”, karena dianggap sebagai asal mula “Mahal Dvipa” atau “Maléldvip” atau “kepala pulau”.

Bagi wisatawan Asia (khususnya Indonesia), kata “Mahal” bisa diartikan secara harfiah. Harga di negara ini memang tidak murah. Kebanyakan barang diimpor dari Thailand, Sri Lanka, membuat biaya hidup di Maladewa secara keseluruhan semakin mahal.

Dibandingkan 13 tahun yang lalu, Male sekarang tak imut lagi. Banyak pembangunan di mana-mana. Walaupun banyak bagian kota yang ditambah dan diperluas, Male tetaplah sebuah pulau.

Banyak pendatang dari pulau-pulau sekitar yang bekerja dan menetap di Male, membuat pulau ini semakin sesak dan tak lagi bisa menampung penduduknya.Namun, Male di malam hari terlihat cantik, penuh dengan lampu yang bersinar dari setiap gedung perkantoran dan apartemen.

Salah satu situs yang kami kunjungi adalah Monumen Tsunami yang berada di sebuah taman, sebagai pengingat akan kekuatan alam yang lebih dari manusia.

Fakta tertera ada lebih dari 100 pulau lenyap berkat erosi alami dari laut dan naiknya permukaan air sisa badai Tsunami 26 Desember 2004.

Bagi banyak pulau yang tersisa, erosi pantai terus menjadi masalah besar. Jadi jangan heran melihat banyak dinding pantai yang dibangun di sekitar pulau untuk membantu memecahkan gelombang atau pompa di pantai untuk memompa pasir kembali ke daratan.

Seaplane

Saatnya kami pindah ke resort island! Tujuan kami berikutnya adalah sebuah pulau pribadi yang berlokasi di bagian selatan Maladewa. Untuk mencapai pulau ini, kami terbang dengan pesawat amfibi atau seaplane.